Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Saat Harus Menjadi Dewasa

Acap kali kita mendengar ungkapan "Menjadi tua itu adalah pasti hukumnya, namun menjadi dewasa adalah suatu pilihan sifatnya". Ya! Tepat sekali ungkapan ini. Seorang dengan usia 20, 30, atau bahkan 50 tahunan yang kita anggap tua, ternyata banyak yang belum dapat bersikap dewasa. Padahal usia semakin tahun semakin berkurang, namun jalan fikiran untuk memperbaiki kehidupan ini ternyata belum cukup berkembang.

Sehingga, tidak perlu menunggu tua untuk menjadi dewasa. Karena kedewasaan tidak selalu beriringan dengan berkurangnya usia. Lalu sebenarnya, apa sih makna dewasa? Secara umum, seorang dapat dikatakan dewasa apabila ia telah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jelek (atau benar salahnya sesuatu). Namun dalam Islam, seorang dewasa adalah yang telah mampu memilih dan memilah serta mengkategorikan mana yang perintah dan mana yang larangan Allah SWT. Adapun salah satu indikator sikap kedewasaan adalah bersikap bijak. Seorang yang memiliki sikap bijaksana tentu mampu mengendalikan dirinya dan ia pun mempunyai arah pandangan hidup yang jelas serta berkomitmen.

Kemewahan tidak menjamin kebahagiaan

Kekayaan dan kemewahan belum tentu dapat menjamin kebahagiaan hidup. Pepatah Melayu ada mengatakan “orang yang bertanam pokok nyiur taktentu ia dapat memakan buahnya.” Ini adalah kerana orang yang menghimpunkan harta benda  itu adakalanya tiada berfaedah bagi dirinya, lebih-lebih lagi jika ia tiada  beroleh kesihatan. Kata orang, “jika hati tak  senang, madu  diminum  dirasai  cuka”.   Harta  yang  banyak  sekalipun  tidak  akan  dapat  meredakan kesakitan  yang  dialami.   Lantaran  itu,  tidaklah  keterlaluan  jika  dikatakan  bahawa kesihatan lebih penting daripada kemewahan.

Allah menjadikannya mudah

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu ( kembali setelah) dibangkitkan. (QS. Al-Mulk:15)
 
Ternyata, Allah telah memudahkan kita untuk mendapatka rezekinya. Allah telah memberikan tuntunan dan motivasi kepada kita bahwa mencari rezeki itu t idak sulit. Salah satu tuntunannya ialah kita harus ingat bahwa hanya kepada Allah kita kembali setelah dibangki tkan. Artinya apa? Janganl ah mencari harta menjadi tujuan hi dup yang utama bagi kita. Jika kita menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kita, insya Allah kita akan mudah mendapatkan rezeki, seperti yang difirman dalam ayat berikut:

…Barangsiapa bertakwa kepada Allah ni scaya Dia akan mengadakan bagi nya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsi apa yang bertawakkal kepada Allah ni scaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap tiap sesuatu. (QS Ath Thalaq:2-3)
 
Dengan ayat-ayat tersebut, diri ki ta akan terbebas dari kegelisahan akan rezeki. Kita akan tetap berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperolehnya. Jika Allah yang menj amin rezeki kita, kita tidak lagi perl u memohon dan meminta kepada manusi a atau makhluq l ai nnya. Ki ta hanya memohon kepada Al lah yang telah menjamin rezeki kita dan berusaha untuk menjemput rezeki tersebut. 

Dunia ini sudah berlimpah dengan rezeki, kita tinggal menyebar dimuka bumi untuk mengambil kelimpahan tersebut dan Allah telah memudahkannya. Lalu mengapa terasa suli t? Bukan ayat i ni yang salah, karena Al Quran tidak mungkin salah, yang salah ada pada diri kita, mungkin ki ta kurang giat mencarinya atau mungkin cara kita mencarinya masih salah. Atau ji ka ki ta sudah giat dan cara sudah benar, Allah sengaja menangguhkannya untuk menguji kita. Tetapi kita tidak pernah tahu, yang kita tahu adal ah berdoa dan berusaha. Jika usaha kita kurang giat, maka tambahkan. Jika usaha ki ta masih salah, belajarl ah baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman seseorang.

Bersusah Payah

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.
(QS. Al Balad:4)
 
Susah payah adalah sudah kodrat kehidupan manusia. Hidup ini selalu dijalani dengan susah payah, semua perlu usaha. Kata orang barat, “no free lunch” tidak ada sesuatu yang gratis, semua perlu kerja semua perlu usaha. Jadi ti dak ada unanya berkeluh kesah, sebab j ika kita berkeluh kesah dal am menghadapi
kesulitan, maka kita akan berkeluh kesah selamanya. Untuk kaya memang susah, tapi miski n juga susah. Kal au begitu mendi ngan milih kaya. Untuk maksi at perlu susah payah, untuk beri badah juga susah payah. Kal au begitu mending beri badah. Apapun yang ki ta lakukan, akan disertai dengan susah payah. Jadi susah payah ti dak bisa dij adikan oleh kita sebagai alasan kita tidak bertindak apa-apa. Jika susah payah selalu menyertai kita, pilihan terbaik ialah menjalani hidup yang baik. Tidak ada alasan tidak berkarya, t idak ada alasan untuk ti dak memberikan kontribusi, tidak alasan untuk tidak berdakwah, tidak ada alasan untuk ti dak berjihad, tidak ada alasan untuk tidak merai h sukses yang besar, toch meskipun kita t idak berusaha untuk itu semua, kita tetap susah.
 
Susah payah mungkin sama, tetapi hasil dan makna dari yang kita lakukan mungkin berbeda. Apakah sama orang yang susah untuk mengejar kesenangan dunia dengan orang yang susah payah mengejar kesenagan akhirat? Apakah sama orang yang susah payah mengejar harta untuk di ri sendiri dengan orang yang mengejar harta untuk jihad? Apakah sama susah payah untuk mempertahankan kemal asan dengan susah payah untuk berkarya? Susah payahnya sama, tapi hasilnya beda.

Orang yang tidak mau susah payah sebenarnya, hanya tidak mau berpindah bentuk susah payahnya. Apa pun yang kita lakukan, kondisi apapun yang ada pada diri kita, semuanya memerlukan susah payah. Untuk mal as pun perlu susah payah, kata si apa tidak? Untuk berjuang pun perlu susah payah, oleh karena itu lebih baik berjuang.

Seberat-beratnya beban…

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami,vjanganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS.Al Baqarah:286)
 
Kita sering merasa beban yang sedang kita alami adalah sangat berat, bahkan paling berat diantara beban yang dimiliki oleh orang lain. Orang cendrung suka menceritakan beban, kesulitan, atau masalahnya kepada orang sambil meyakinkan orang lain bahwa bebannya yang paling berat. Apa itu membantu?
 
Menceritakan beban kepada orang terdekat atau yang terpercaya mungkin akan meringankan, tetapi kalau ke banyak orang justru malah tidak baik. Dari pada bercerita ke sana ke mari tentang beban kita, mengapa tidak bercerita dan mengadu kepada Allah SWT. Berdoalah: 

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Allah SWT tidak pernah memberi beban yang melebihi kemampuan kita. Ini menurut Al Quran. Jadi bagaimana pun besarnya beban, kesulitan, dan masalah yang kita hadapi, yakinlah bahwa kita akan mampu melewatinya dan mengatasinya.

Ayat ini memberikan kekuatan kepada kita untuk lebih percaya diri dalam menjalani hidup ini. Kita percaya, bahwa diri kita sudah diberikan kekuatan untuk menghadapi masalah bagaimana pun beratnya menurut ukuran kita. Kita juga yakin, bahwa Allah tidak akan memberikan beban yang melebih kemampuan kita. Justru, saat kita mendapatkan masalah yang berat, sangat berat, bahkan paling berat dibanding masalah yang dihadapi orang, ini menunjukan bahwa kita memang memiliki kemampuan yang lebih. Seorang anak SD tentu hanya akan diberikan soal ujian untuk SD, sementara seorang mahasiswa akan mehadapi ujian untuk tingkat perguruan tinggi. Harusnya kita malu, jika kita menyerah dengan ujian yang kita hadapi. Jangan-jangan, ujian yang diberikan adalah untuk level SD, sementara orang lain menghadapi ujian level perguruan tinggi dan mereka mampu menghadapinya.

Rahmatan lil’alamiin

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al Anbiyaa':107)
 
"Ah saya mah, sudah bisa ngasih makan anak sama istri sudah cukup. Saya
tidak akan muluk-muluk." 

"Saya hanya ingin bermanfaat bagi orang lain."
 
Coba bandingkan dua kalimat di atas. Mana yang lebih baik? Jika Anda memilih kalimat yang kedua, sepakat dengan saya. Bagaimana dengan contoh kalimat yang pertama? Menurut saya banyak sekali. Sebagai ciri orang-orang yang seperti ini ialah orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Ciri lain ialah orang yang cepat puas dengan hasil yang dia peroleh, karena sudah mencukupi untuk diri serta keluarganya.
 
Padahal masih banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan kita. Pengemis, gelandangan, anak-anak jalanan, anak-anak yatim piatu, anak-anak berandal, dan sebagainya. Jika kita sudah cukup, kenapa kita tidak berpikir untuk mencukupi mereka? Semua terserah Anda, kalimat mana yang akan Anda pilih. Pemilihan kata-kata itu merupakan pencitraan pada diri Anda sendiri, apakah Anda orang yang egois yang hanya mementingkan diri sendiri atau orang yang peduli dengan sesama,
yang menjalankan peran Anda sebagai seorang Muslim yaitu rahmatan lil 'alamin.
 
Jangan karena kita sudah bisa memenuhi kebutuhan kita, lalu kita berhenti meraih sukses yang lebih tinggi lagi. Sebab, kita ini diutus menjadi rahmatan lil’alamiin, bukan saja rahmat untuk diri sendiri dan keluarga. Jika sudah sukses pun tidak ada alasan untuk tidak meraih sukses berikutnya, apa lagi jika kitab masih merasa belum sukses.

Hanya mengharap keridhaan Allah

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS. Al Insaan:9)
Inilah ciri orang yang melakukan kebajikan, memberi makan kepada fakir miskin hanyalah untuk menghadap ridha Allah semata. Sering kali saat kita berbuat sesuatu, kita malah dikritik pedas oleh orang lain. Sering kali saat kita berbuat baik, bukannya mendapatkan terima kasih, tetapi malah dihina. Bahkan tidak sedikit orang yang berjuang malah mendapatkan fitnah. Kita tidak akan membicarakan mereka yang tidak suka kepada orang-orang yang berbuat baik. Kita fokuskan saja kepada diri kita sendiri. Jangan sampai kehadiran orang-orang seperti ini menghambat kita berbuat baik. Kita hanya mengharapkan keridhaan Allah, tidak peduli apakah orang yang kita tolong akan
berterima kasih kepada kita atau tidak.
 
Kita juga tidak usah memperdulikan orang yang malah mengkritik kebaikan kita. Lebih baik dikritik karena berbuat kebaikan dari pada mengkritik yang berbuat kebaikan tetapi tidak berbuat baik. Biarkan, teruskan berbuat kebaikan, teruskan berjuang untuk orang lain, dan jangan berhenti untuk berkontribusi. Yang perlu kita lakukan ialah menguatkan jiwa kita atas para pengkritik ini.
 
Begitu juga, kita mungkin mendapatkan fitnah, karena ada orang yang tidak suka saat kita berbuat baik. Mereka memfitnah orang yang berbuat baik karena iri, dengki, atau kedudukannya terancam. Teruskan berjuang, sebab yang kita kejar adalah keridhaan Allah. Hanya keridhaan Allah. Jangankan kita, para Nabi pun yang mulia, selalu mendapatkan perlakuan yang jelek dari umatnya. Padahal para Nabi itu jelas akan menyelamatkan umatnya. Tapi apa yang terjadi, dibunuh, disiksa, dan difitnah, padahal mereka itu adalah orang-orang teragung yang diutus justru untuk menyelamatkan manusia. Apalahkita, jika kita bebuat baik, tentu saja akan mendapatkan perlawanan yang tidak sedikit pula.